Rabu, 1 April 2026 oleh Khanifah, S.Pd.
SEMARANG – Menembus batas ruang kelas, SMP Negeri 38 Semarang sukses menggelar kegiatan Outdoor Study sebagai bagian dari implementasi pembelajaran kokurikuler semester genap tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan tersebut diikuti sebanyak ratusan siswa kelas VII terjun langsung melakukan observasi lapangan ke dua destinasi edukasi unggulan di Kota Atlas: Puri Maerokoco dan Museum Ranggawarsito, Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk rekreasi, melainkan sebagai upaya penguatan literasi budaya dan pelestarian sejarah bagi generasi muda agar lebih mengenal jati diri serta kearifan lokal daerahnya.
Eksplorasi dimulai di Puri Maerokoco, yang dikenal sebagai "Taman Mini" Jawa Tengah. Di lokasi ini, para siswa melakukan studi komparatif terhadap berbagai arsitektur rumah adat dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Melalui pengamatan langsung, mereka belajar memahami kemajemukan budaya tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Tak hanya aspek budaya, dimensi ekologi juga menjadi perhatian. Para siswa diajak menyusuri kawasan hutan mangrove yang asri. Sambil berjalan di atas jembatan kayu, mereka menerima paparan mengenai peran vital mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Semarang. Antusiasme siswa terlihat jelas saat mereka mendokumentasikan setiap momen edukatif, mulai dari diskusi kelompok hingga berfoto bersama di spot-spot ikonik yang menonjolkan estetika arsitektur tradisional.
Puri Maerokoco: Menganyam Budaya dan Melestarikan Alam di 'Taman Mini' Jawa Tengah
Setibanya di Puri Maerokoco, para siswa langsung disambut oleh atmosfer budaya yang kental. Petualangan mereka dimulai dengan eksplorasi kekayaan budaya Jawa Tengah, di mana mereka mengunjungi berbagai anjungan rumah adat dari 35 kabupaten/kota yang berbeda. Di setiap anjungan, mereka belajar tentang keunikan arsitektur, pakaian tradisional, dan adat istiadat khas setiap daerah, yang memberikan pemahaman lebih dalam tentang kemajemukan budaya di tanah Jawa. Kebersamaan dan keceriaan mereka terlihat jelas saat berfoto bersama di spot-spot ikonik yang menonjolkan estetika arsitektur tradisional, mencerminkan semangat belajar yang tak kenal lelah.
.jpeg)
Namun, pengalaman belajar para siswa tidak berhenti di aspek budaya saja. Mereka juga diajak untuk berinteraksi langsung dengan alam melalui kunjungan ke kawasan hutan mangrove yang asri. Sambil berjalan di atas jembatan kayu yang membentang di antara rimbunnya tanaman mangrove, mereka menerima penjelasan mendalam dari pemandu tentang peran vital mangrove bagi keberlangsungan ekosistem pesisir, khususnya di Semarang. Siswa tampak sangat antusias, menyimak penjelasan dengan saksama dan aktif mendokumentasikan setiap poin edukatif untuk kemudian dikembangkan menjadi laporan hasil observasi, menunjukkan semangat literasi lingkungan yang tinggi.

Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan sesi foto bersama yang megah di dalam sebuah pendopo besar yang megah dan beraksen kayu, tempat para siswa berkumpul untuk berbagi pengalaman. Dengan latar belakang langit-langit berusuk yang indah, lampu gantung kuno yang elegan, dan tiang-tiang kayu besar, kerumunan siswa duduk rapi, siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya dari petualangan Outdoor Study mereka: Museum Ranggawarsito. Kegembiraan terpancar dari wajah para siswa, yang siap membawa ilmu dan memori berharga dari Puri Maerokoco ke destinasi berikutnya.
.jpeg)
Perjalanan literasi berlanjut menuju Museum Ranggawarsito, pusat dokumentasi sejarah dan budaya terbesar di Jawa Tengah. Di sana, para siswa seolah memasuki lorong waktu untuk membedah sejarah peradaban. Mulai dari koleksi geologi, fosil purbakala, hingga peninggalan zaman kerajaan dipelajari dengan saksama. Didampingi oleh para tenaga pendidik, siswa secara aktif mencatat fakta-fakta historis untuk kemudian dikembangkan menjadi laporan hasil observasi. Hal ini bertujuan untuk mengasah kemampuan analisis serta rasa bangga terhadap warisan nenek moyang yang tersimpan rapi dalam etalase sejarah.
.jpeg)
Pihak sekolah menegaskan bahwa metode pembelajaran luar kelas ini sangat efektif untuk membangun karakter siswa yang kritis dan apresiatif terhadap aset daerah. Melalui program "Sekolah Duta Wisata", siswa diharapkan mampu menjadi agen informasi yang dapat mempromosikan potensi pariwisata Kota Semarang di masa depan.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi bersama. Meski agenda berlangsung padat, pancaran semangat tetap terlihat di wajah para siswa yang telah berhasil memadukan teori di buku dengan realitas di lapangan.